Siang yang panas di kota Banjarmasin. Zahra yang baru bangun tidur merengek minta kue. Trus pertanyaannya kue apa? Dia bilang “AH NJu”….Apaaan tuuh?! Kue buatan Korea? Hehe bukan. Ah Nju adalah Pisang keju versi lidah Zahra yang belum begitu pandai ngomong. Mau nggak mau karena terus merengek, terpaksalah aku membelikannya. Padahal diluar puanasnya minta ampun.
Sampai di tempat penjualanya, ternyata masih harus menunggu barang sepuluh menit karena belom mateng. Bingung mau ngapain. Akhirnya motorpun distarter, gas diputar dan kemudi diarahkan menuju sebuat warnet terdekat. Yach, daripada mlongo kayak Pinokio kan mendingan postingo…..hehe dipas-pasin. Tapi maaf gak sempat BlogWalking. Meski sebenarnya kerinduan yang ada begitu dalam. Bahkan saat BW beberapa hari lalau, saya sempet ga tahan dan hampir nangis, menyadari betapa banyak yang telah terlewat.
Saya memang baru kenal kalian, tapi orang-orang seperti BIBI Ti, Bintang Ti, Hes, Abrus dan lainnya mampu membuat saya merindu. Semoga kalian juga begitu. Maaf jika ada janji posting yang tak perpenuhi…semoga ini awal untuk saya kembali. Meski hanya untuk mengisi waktu Menunggu Pisang Keju….
Tagged: menunggu, pisang keju, Zahra 12 Februari 2011
Sudah beberapa minggu ini,tanpa pamitan saya menghilang dari peredaran. Bukan maksud sih, tapi laptop lagi dapat cobaan. Windowsnya error plus speedynya lupa dibayar. Hehe…maklumlah yang bertugas membayar seorang pria karir yang supaer duper sibuk. Jadi yaa…gitu deh..
Dan hari ini lagi maksa posting via laptop adik ipar. Mumpung lagi ga dibawa sama yang punya. Dan rasanya belum terlalu terlambat untuk Dyah dan keluarga mengucapkan…
“Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi sobat blogger yang menjalankannya. Semoga semua amalan kita diterima olehNya, semua dosa kita diampuniNya, kita mendapat keberkahan dan pahala yang berlimpah dariNya, dan akhirnya kita menjadi orang yang bertaqwa. Amiin.
Dyah juga minta maaf atas semua kesalahan selama kita berteman. Kalau ada kata yang kurang pantas atau kurang sopan, baik dalam komentar atau postingan mohon dimaafkan.”
Dan berhubung ini laptop pinjaman…udah dulu ya postingnya. Sekian pemberitahuan saya. Sampai juumpa kapan-kapan….(hehe…ending yang maksa dan ga mutu)
Tagged: laptop, Puasa, windows 13 Agustus 2010
Di sebelah rumah kami, tinggal sebuah keluarga kecil dengan dua balita. Kakaknya berumur satu setengah tahun, adiknya berumur 4 bulan. Kedua orang tuanya PNS yang setiap hari nekerja, dari pagi hingga sore hari sekitar pukul tiga. Untuk menjaga kedua buah hati, mereka mempekerjakan dua pembantu rumah tangga, yang sekaligus bertugas untuk beres-beres rumah dan masak tentunya.
Tapi saya heran, di rumah itu pembantu ga pernah awet. Kadang dua bulan berhenti. Kadang sebulan atau bahakan dua minggu sudah keluar. Malah ada yang lebih parah baru dua hari sudah pamit pulang. Awalnya saya pikir karena pekerjaan mereka terlalu berat. Mengurus dua balita plus pekerjaan rumah tangga. Apalagi saya mengalami sendiri, mengurus dua balita plus masih ngerjakan pekerjaan rumah itu ga mudah. Ditambah lagi jika si balita tipe yang ga mau diam, wow….beneran bisa ST 12 kalau ga pandai nyiasatin.
Namun ternyata saya salah, bukan itu alasan mereka keluar. Mereka ga dikasih uang untuk belanja dan masak lauk. Mereka musti masak lauk sendiri dan beli lauknya dengan uang mereka sendiri. Sementara nasi disediakan oleh majikan mereka. Pertanyaannya…majikannya makan pakai apa? Ternyata si majikan ga pernah masak juga. Menurut para pembantu ini saat curhat sama saya, majikannya kadang beli lauk mateng dan tentu saja mereka ga dikasih, atau kadanga masak seadanya seperti mie instan atau telor saja. OH MY GOD! Ini majikan apa ibu kos sih…?
Dalam hati saya mengucap Istighfar. Kok ada ya yang seperti itu. Udah diperes keringatnya, eh ga dikasih makan pula. Dibayar sih dibayar, tapi tiga ratus ribu itu kalau di Banjarmasin ditingal kedip mata juga habis! Harga makanan disini semua mahal. Apalagi kalau harga bahan pangannya juga lagi melonjak macam sekarang ini. Lantas kapan mereka bisa nabungnya? Belum lagi mereka berasal dari Martapura yang jauhnya puluhan kilometer dari Banjarmasin, yang untuk sampai ke sana perlu ongkos sekitar 50 ribuan. Buat sebagian orang 50 ribu itu sedikit. Tapi buat mereka, itu sangat berarti.
Saya lantas membandingkan dengan perlakuan almarhumah ibu saya pada Yu Ti. Ibu dan bapak saya juga bekerja. Tapi setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, saya selalu melihat ibu saya memberikan uang belanja pada Yu Ti, disertai dengan pesan-pesan apa aja yang musti dibeli dan dimasak. Ibu saya ga pernah membedakan apa yang kami semua makan dengan apa yang harus Yu Ti makan. Apa yang dibeli dan dimasak Yu Ti, itulah yang kami semua makan. Gaji Yu Ti memang nggak selalu diberikan dalam bentuk uang, tapi ditabung sama ibu dalam bentuk perhiasan, kecuali kalau keluarganya Yu Ti lagi perlu uang tunai.
Soal pakaian, Ibu membelikan pakaian dengan mutu yang sama bagusnya dengan pakaian kami. Saya juga nggak pernah lihat ibu sembarangan memarahi Yu Ti apalagi sampai memaki. Kecuali kesalahan Yu Ti fatal banget. Tapi itu pun seingat saya ga pernah. Bahkan ibu sudah menganggap Yu Ti seperti anak sendiri, hingga saya pun menganggapnya kakak sendiri. Intinya, ibu sangat memanusiakan Yu Ti, hingga saat saya sempat punya pembantu pun, saya berusaha untuk meniru apa yang dilakukan ibu saya.
Tapi itulah, lain orang pasti lain pula cara mereka memperlakukan orang lain. Meskipun orang tersebut sudah membantu mereka meringankan beban dan tugas mereka. Barangkali saja mereka masih kurang ilmu, sehingga belum tahu bagaimana seharusnya memperlakukan seorang pembantu. Jika mereka memahami, pasti semua nggak akan terjadi dan nggak bakalan mereka sering ganti-ganti pembantu karena nggak kerasan.
Tagged: ibu kos, majikan, pembantu 22 Juli 2010
Sebentar lagi Ramadhan trus habis itu pastinya Lebaran. Semua orang yang merantau biasanya memanfaatkan momen Lebaran untuk pulang kampung alias mudik. Bahkan mereka sudah jauh-jauh hari memesan tiket entah pesawat, bus malam atau kereta api, agar tak ketinggalan momen penuh makna tersebut. Momen yang dianggap pas untuk kumpul keluarga dan saling memaafkan. Padahal sih kalau cuma mau minta maaf aja kan ga perlu nunggu Lebaran kan?
Sebagai anak rantau yang sudah hampir dua tahun ga mudik, tahun ini Insyaallah saya dan keluarga saya akan mudik. Ya ke kampung saya di Ngawi, dan tentu saja ke rumah mertua di Probolinggo. Biasanya sih saya ga pernah mudik pas Lebaran. Soalnya biasanya semua kendaraan penuh sesak. Kasihan aja anak-anak kalu harus ikut berdesakan. Tapi entahlah, kali ini kami pengen banget merasakan suasana Lebaran di kampung halaman kami.
Nah…bicara soal mudik alias pulang kampung, mau tahu ga sih, apa arti pulkam bagi seorang Dyah?Yang akan saya bahas adalah pulang kampung ke Ngawi, kota kelahiran saya…
Pertama, pulkam berarti ketemu orang-orang tersayang. Ketemu bapak, kakak saya, kakak ipar dan keponakan yang selama ini cuma saya lihat fotonya aja. Itupun foto waktu baru lahir. Sekarang usianya sudah 8 bulan. Kebayang sudah betapa lucunya. Terus, kali ini saya juga bakal mempertemukan Zahra dengan Eyang kakungnya. Kalo Rani sih udah dua kali pulkam, Zahra dua tahun lalu masih di perut, dan sekaranglah kesempatan pertama untuk ketemu Eyang, Pak Dhe, Bu Dhe dan sepupunya. Kebayang deh ramenya rumah bapak karena penuh anak-anak kecil…
Kedua, pulkam adalah saat untuk ziarah ke makam ibu, nenek serta kakek saya. Mendoakan mereka memang bisa di mana saja. Tapi membersihkan makam, mengirimkan Fatihah dan mendoakan di depan makam mereka akan beda rasanya.
Pulkam juga berarti wisata kuliner. Makanan khas Ngawi seperti pecel, tempe kripik, geti dan buanyak lagi makanan favorit yang patut dijajal. Sebenarnya sih, makanan macam itu banyak di Banjarmasin. Tapi menikmatinya di kampung halaman akan sangat terasa sensasinya. Seperti kalau kita makan Empek-empek, di Palembang dan di tempat lain pasti beda rasanya..
Pulkam berarti bisa requeast masakan ke Yu Ti. Kalau selama di Banjarmasin saya pontang-panting masak sendiri, di rumah saya tinggal request ke Yu Ti. Yah lumayan lah sejenak meninggalkan rutinitas yang bikin ST 12(Stress Tingkat 12). Dan asal tahu saja, karena Yu Ti itu murid teladan ibu saya, jadi masakannya memiliki rasa yang persis sama dengan bikinan ibu. Pokokna mah, ilmunya sudah diturunkan semua ke Yu Ti. So, saya tinggal pesen.
Pulkam juga berarti ketemu teman-teman lama, SMP atau SMA. Memang, kadang ga bisa ketemu langsung. Tapi ngobrol beberapa menit via telpon lokal akan sangat terasa……ngiritnya dibanding pake hp. Tekor boo! Meskipun sebelum balik ke Banjarmasin mesti itung-itungan dulu sama bapak, berap pulsa yang harus saya ganti….hehe..Ada sih beberapa yang masih bisa ketemuan, dan biasanya acaranya adalah ngobrolin anak. Habis udah pada punya anak semua…
Satu lagi arti pulang kampung dan ini justru yang saya tunggu-tunggu. Pulang kampung berarti BERHENTI PAKE BAHASA INDONESIA. Habis capek! Ngomong sama siapa aja di Banjarmasin pasti pake bahasa Indonesia. Padahal seringkali ada kata dalam bahasa Jawa atau daerah lain yang ga ada Bahasa Indonesianya. Atau kalau ada kata-katanya kepanjangan. Kan capek. Apalagi saya keluarga muti kultur yang mau ga mau, suka ga suka harus pake bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Kecuali sama ayah yang bisa bahasa Jawa gaya Suroboyoan…Jadi pulkam artinya…ngomong pake Bahasa Jawa…..Merdekaaa banget rasanya…
Tapi ada sedihnya juga….karena pulkam berarti ga bisa blogging. Di rumah Ngawi ga ada koneksi internet. Apalagi di kampung mertua saya…..sedih deh hiks…Tapi ga papa. Kalau lama pulkamnya, berarti makin banyak oleh2 postingnya…Iya kan…?
Trus…apa sih arti pulang kampung buat sobat semua…?
Tagged: mudik, Ngawi, Probolinggo, pulang kampung 20 Juli 2010
Sebenarnya lagi ngantuk berat. Tapi inget sesuatu yang lucu dan sumpah setia saya(lebay mode on) untuk lebih semangat nulis, maka dibuatlah postingan ini.
Ini cerita seputar kepulangan saya ke kampung mertua saya hampir dua tahun yang lalu. Saat itu Rani baru dua tahun dan Zahra lagi bertumbuh dalam perut saya. Saat itu di desa Liprak dan sekitarnya lagi musim orang mantu. Maklum aja masih bulan Syawal. Hampir setiap hari ada orang punya gawe. Dan ciri khas orang punya gawe di desa adalah memutar lagu super kenceng pakai speaker. Katanya sih sekalian buat ngundang orang yang rumahnya jauh. Tapi buat yang berdekatan, bising booo….!
Pagi itu saat saya sedang nyuci di kamar mandi, sayup sayup saya dengar intro salah satu lagu India kesukaan saya. Judulnya Legayi Legayi, OST film Dil To Pagal Hai. Tapi setelah kedengeran suara penyanyinya, saya mulai merasa bahwa itu bukan lagu India. Setidaknya bahasanya sudah diganti. Tahu kan gimana orang Indonesia, paling pintar kalau disuruh menterjemahkan dengan terjemahan gak resmi….hehe…tahu kan maksudnya?
Tapi berhubung lagi di kamar mandi, saya cuek aja. Saya pikir, cuma lagu ini, kenapa musti dibahas…?
Setelah selesai mandi, saya ke ruang tamu. Kebetulan lagi ada kaka ipar dan suaminya. Suami kakak yang emang dagang VCD bekas lagi nyobain dagangannya yang mau ditawar orang. Pas udah disetel, kok kebetulan lagu yang tadi dan ternyata itu adalah lagu berbahasa Madura yang judulnya Posang. Kalau ga salah begini syairnya…
Posang posang bule posang…(Binung bingung aku bingung)
Due napa se e pasang(Jampi-jampi apa yang kamu pasang)
Kule engak ka dike posang hai(Ku ingat kamu jadinya bingung..hai)
Posang posang….bule posang(Bingung bingung…aku bingung)
Posang posang..bule posang…(bingung bingung…aku bingung)
Padahal syair aslinya berbunyi demikian
Much ko hui na khabar
Chori chori cup cup kal
Kab pyar ki pehli nazar..hai
Legayi legayi….legayi legayi…
Yang terus terang saya ga tahu artinya….
Aduuh…mu nemu bei(ada ada aja..). Atau jangan-jangan bener, lagayi = posang alias bingung? Hehe…Meski awalnya saya merasa aneh lantaran ga pernah dengar lagu ngetop dialih bahasakan ke dalam bahasa selain Indonesia dan Jawa, ga urung saya tertawa terpingkal pingkal. Bahkan lagu itu kini jadi lagu kebangsaan saya. Kalau lagi kebingungan saya pasti akan jawab dengan …” Posang posang…bule posang”
Tagged: bahasa Madura, lagu India, Posang 12 Juli 2010
Jadi penulis adalah salah satu keinginanku. Sayangnya, keinginan cuma tinggal keinginan. Banyak faktor yang menyebabkannya. Malu kalau dibaca orang, takut dikritik, kehabisan ide dan yang paling parah….malas! Yup, malas menulis ide yang terlintas adalah penyakit terparah, yang bikin aku ga pernah berhasil jadi penulis.
Tapi itu dulu. Duluuuu…..banget sebelum aku kenal yang namanya blog, blogging dan blogwalking. Terutama sebelum aku kecemplung dalam sebuah kolam yang menyejukkan bernama blogdetik. Why? Diawal aku ngeblog pun, aku tetep aja males nulis. Yang di pikiranku adalah, siapa ya yang bakalan baca tulisanku? Kemudian setelah masuk ke salah satu komunitas blogger sebuah toko buku online, dan sudah tahu yang namanya blogwalking, teteeep aja malesnya lebih sering nempel ketimbang rajinnya. Tapi di blogdetik semua berubah.
Di Blogdetik, aku jadi lebih rajin menulis. Paling tidak mengusahakan seminggu satu postingan. Yah, rasanya itu sudah cukup karena banyak waktu tersita buat urusan si kecil(alasan mode On). Bahkan jika sedang terjadi “ledakan”, dalam sehari bisa dua atau tiga. Hehe….rasanya ga pantes ngomong kayak gini. Cuma tiga kok dibilang ledakan. Padahal sudah ada yang sehari 17 postingan…..
Tapi buat aku, tiga itu jumlah yang luar biasa. Mengingat, seringkali dalam menulis aku direcoki sama anak-anak. Ada yang minta maem, minum susu, dedeknya ngompol, ini, itu banyak banget. Dan semakin sering BW, makin banyaklah ide untuk menulis. Tidak jarang postingan seorang sahabat memberi aku ide untuk menulis posting berikutnya. Apalagi jika mereka adalah orang-orang seperti Bibi Titi Teliti, Bintangtimur, Padiemas atau mbak Hes.
Dari tulisan mereka aku belajar banyak, apa sih yang musti kita tulis untuk nambah teman. Banyaknya komentar positif yang singgah di blog mereka membuatku tahu, tulisan seperti apa yang dimaui pembaca. Ga harus ngebahas yang sedang ramai dibicarakan orang macem kasus video panas, menulis tentang keseharian saja, bisa mengundang banyak orang untuk membaca. Perkara nanti jadi posting pilihan atau masuk hot blog atau kalau dulu jadi blogger of the week, itu urusan nanti. Pokoknya kalau mau nulis ya nulis aja.
Tapi di Ulang Tahun Blogdetik ke 12 ini, aku justru dapet hadiah dari blogdetik. Salah satu tulisanku jadi Posting Pilihan. Sebuah hadiah yang bukannya ga diharapkan, tapi buatku rasanya nggak mungkin. Aku tahu banget macem apa ulisan yang aku buat. Sekedar ungkapan atau catatan seorang ibu dua putri yang suka nulis. Masih banyak yang lebih layak dari tulisanku. Tapi kali ini…..Alhamdulillaah..
Terima kasih blogdetik, menjadi Posting Pilihan membuat aku makin semangat menulis dan semoga makin hari tulisanku makin bagus. Maksih juga buat teman-teman yang selama ini sudah rajin komen di blogku. Silaturahmi ini semoga tetap terjalin. Akhirnya….Selamat Ulang Tahun ke 12 untuk Blogdetik. Semoga makin banyak menampung ide-ide anak bangsa yang tak tersalurkan lewat media lain.
Love You…
Tagged: blogdetik, hadiah, kar33nar3sh, penulis, tulisan, Ulang Tahun 9 Juli 2010
Antara Power Rangers, Ben 10 dan Barbie
Malam itu saat saya tengah menyusui Zahra, tiba-tiba Rani yang baru saja mematikan TV setelah nonton Upin dan Ipin berbisik di telinga saya…
Rani : Bu…nanti kalau sudah besar Rani mau jadi dokter…
Saya : Bagus…ibu seneng. tapi Rani juga mesti belajar yang pinter, maem dan minum susunya juga mesti pinter. terus, selain jadi dokter mau jadi apa lagi…?
Rani : mau jadi Power Rangers..itu lo bu, seperti Bintang(nama temannya)…
Saya : ??@…kenapa mau jadi Power Rangers…?
Rani : Biar bisa pakai jam tangan Ben 10…eh..eh.. nggak ding…pakai jam tangan Barbie…
Saya : ??@@?!!….(baca : bengong)
Sindrom Upin dan Ipin
Malam itu mati lampu…Zahra yang ketakutan langsung menangis. saya yang lagi ada di dapur berteriak menenangkan.
Saya : Dede jangan nangis ya…ibu lagi nyalain lilin. Mabk Rani..tolong nyalain senternya..tadi ibu taruh dekat lemarinya mbak Rani…!!
Rani : Iya…! Ibu nyalain lilin..?!
Saya : Iya..tunggu ya..
Rani : Ingat…jangan main api! (Kak Ros mode On)
Saya cuma geleng-geleng kepala. Setelah lilin menyala, saya kembali ke kamar dan bermain di kamar bersama mereka. Zahra meminta hp yang saya pegang untuk sms ayahnya. Tapi Rani mengalihkan perhatian dengan memberikan buku mewarnainya yang udah ga kepakai…
Rani : Ini dek….Tapi ingat, jangan kotorkan buku! Jangan coretkan buku. Jangan lipat buku….
Saya : Jangan jual buku nii…!
Kami pun tertawa tergelak karena Zahra cuma bengong sambil kedip-kedip ngantuk…Rupanya semua sudah kena sindrom Upin dan Ipin…
Tagged: Barbie, Power Rangers, Rani, Upin dan Ipin 8 Juli 2010
Saya bukan golongan penggila bola ataupun bola mania. Tapi Piala Dunia selalu menjadi tontonan wajib saya. Meski ga rutin, setiap punya kesempatan selalu saya usahakan (paksakan)untuk nonton. Apalagi jika tim favorit saya yang bertanding. Biarpun terkantuk-kantuk diselingi tugas menyusui(hehe maklum ibu-ibu…), tim favorit sangat sayang untuk dilewatkan. Kalah atau menang bukan masalah, selama yang main tim kesayangan pasti ditonton.
Sayangnya hampir semua tim kesayangan saya rontok di tengah jalan. Mulai Afrika Selatan, Perancis, Portugal, Itali, Korea Selatan, Jepang dan terakhir kemaren Jerman dilibas oleh Spanyol dengan skor 1-0. Dan menurut saya yang ga ngerti strategi bola ini, semalam memang saya tidak melihat Jerman seperti sebelumnya. Serangannya kurang ganas menurut saya jika dibandingkan Spanyol. Selama saya nonton(karena nontonnya ga sampai selesai), berkali-kali Jerman hampir kebobolan meski akhirnya gagal. Dan terakhir, Jerman benar-nenar dibuat ga berkutik karena gawangnya kebobolan di menit ke 73, dan tak terbalaskan hingga akhir pertandingan(tahu dari berita di TV). Sayang memang. Tapi harus diakui, malam itu Spanyol luar biasa. Puyol Cs akhirnya mampu menyingkirkan Klose dan kawan-kawan.
Kini harapan saya satu-satunya tinggal pada Belanda. Saya berharap banget Belanda yang didukung Wesley Sneijder, Robin van Persie, Arjen Robben, Nigel de Jong, dan Dirk Kuyt, bisa menjadi juara Piala Dunia 2010 kali ini. Kalaupun ini gagal…hiks….Memilukan(Lyla mode on)
Tagged: Belanda, harapan, Jerman, Juara, Klose, Puyol 8 Juli 2010
Sudah seminggu ini saya ga bisa berkutik. Jangankan bikin posting atau blogwalking, sekedar memunculkan desktop saja laptop saya ga bisa. Selalu saja restart…restart…lagi dan lagi. kata suami saya yang orang IT, laptop saya kena virus yang bernama Trojan. Sebenarnya sih kata suami tinggal diinstal ulang aja, karena semu antivirus yang ada di laptop ga mampu lagi. Namaun apa mau dikata, kesibukan suami membuat penyakit yang hinggap di laptop ga kunjung hilang.
Akhirnya…setelah merayu-rayu plus dikasih hadiah, laptop pun diinstal. Meski untuk pelaksanaannya, diserahkan pada adik ipar yang kebetulan adalah murid suami saya dalam urusan IT. Usai diinstal saya pun senang. “wah…bisa online lagi nih..”.
Tapi rupanya saya memang belum boleh online. Si adik lupa seting modem yang pake USB. Masalahnya, CD rom di laptop juga lagi error. Terpaksalah menunggu kopian dari laptop suami. Entahlah…saya ga begitupaham wong cuma User. akhrnya setelah semalaman diotak-atik suami…..jeng jeng!…Laptop pun beres dan saya bisa online, blogwalking dan posting lagi…
Aduuuh…Trojaan..trojan….jangan lagi-lagi deh singgah di laptopku….bikin hari-hariku sepi sunyi tanpa teman-teman dari dunia maya….
Tagged: laptop, trojan, virus 6 Juli 2010
“…..Tersebutlah seorang sobat maya bernama aneh…kar33nar3sh..tuh bagaimana membaca namanya?…..”
Begitulah yang ditulis kakak Abrus dalam postingannya tentang award yang saya hadiahkan di hari Ulang Tahunnya….Terus terang saya geli membacanya. Tapi saya menulis dikomen bahwa saya akan bikin tulisan tentang sejarah nama aneh itu…Dan inilah sejarah itu bermula…..Jreng…jreng….(kalau perlu pakai instrumennya Kitaro….)
Ketika lahir ke dunia ini, kedua orang tua memberi saya nama Dyah Rina Nugrahani yang terus terang saja kurang begitu saya pahami maknanya. Saya cuma tahu kalau Dyah itu artinya perempuan dan Nugrahani diambil dari kata anugrah. Sedangkan Rina barangkali saja diambil dari kata rina(baca rino) yang dalam bahasa Jawa artinya siang hari, dengan harapan akan menjadi pembawa suasana cerah dalam keluarga…..hehe…mungkin lho….Dengan nama sepanjang itu saya diberi nama panggilan Nunik, karena kata orang tua dan kakak saya, waktu kecil saya cukup menik-menik alias imut-imut(narsis mode on). Kalu sekarang sih…..teteeep….hehe…
Nama panggilan itu dipakai dari kecil sampai sekarang oleh seluruh keluarga termasuk keluarga besar baik dari ayah dan ibu saya. Tapi saat SMA seorang teman merasa perlu mengganti nama panggilan saya dengan Rina yang menurutnya lebih bisa membuat saya menoleh. Kenapa..? Karena nama Nunik saat di tempat ramai akan kedengaran sama dengan Atik, Ninik, Nanik, Anik atau Titik karena sama-sama pakai “IK”. OK. Saya pun nurut aja. Toh itu masih nama saya. Jadi di rumah dipanggil Nunik, di sekolah Nunik dan Rina.
Yang paling ga populer adalah nama Dyah. Nama ini jarang sekali saya pakai. Hingga sempat waktu kuliah, seorang adik tingkat berlari-lari mengejar saya karena saya tidak menjawab panggilannya saat saya dipanggil dengan nama Dyah. Habis…..banyak banget temen yang dipanggil dengan nama itu. Jadi saya pikir bukan saya yang dipanggil. Hehe….buat adik kelas yang kebetulan baca…maaf yee…Tapi setelah menkah, suami meminta saya untuk mengganti nama panggilan dengan Dyah. Karena menurutnya, ga ada salahnya memulai hidup baru dengan sesuatu yang baru termasuk nama panggilan.
Sewaktu saya kerja, karena saya kerja di radio dan kebetulan suara saya dianggap layak untuk siaran, saya pun jadi penyiar. Karena musti akai nama siaran alias nama udara, saya pakai nama Rina Aprillia karena lahir bulan April. Jenuh dengan suasana kerja di radio pertama, saya pun pindah ke radio lain yang kebetulan lagi perlu penyiar. Dan disinilah sejarah itu sebenarnya bermula…
Di radio kedua ini, saya memakai nama siaran Karin Nareswari. Berhubung saya siaran lagu-lagu India dan saya sendiri tergolong India Freak…saya sering menulis nama siarana itu dengan Kareen Nareshwar saja. bahkan teman-teman memanggil dengan Kareen Naresh Maholtra atau kadang Kareen Pratap Singh…..hehe lebay ya…
Saat itu juga saya mulai gandrung denga yang namanya dunia maya. Tiap hari ting chatingan. Karena ga mau pakai nama asli nama Kareenaresh kembali saya pakai. setiap memiliki akun saya gunakan nama ini termasuk saat saya join blogdetik. Nah, karena kata admin nama yang afdol musti pakai kombinasi angka dan huruf, saya mengganti semua huruf e dengan angka 3. Sehingga kareenaresh berubah jadi kar33nar3sh. Tapi ga nyangka aja kalau dianggap aneh..
Jadi gitu ya kakak Abrus….namanya ga aneh kok…cuma unik..Jadi jangan bingung lagi ya…
Tagged: aneh, kar33nar3sh, nama, sejarah 6 Juli 2010
Previous Posts